Sepercik Cerita Dariku

Sering ku berpikir, aku adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia. Sejak aku di lahirkan, setetes air kesejukan pun tidak dapat ku teguk. Hanya kehinaan yang ku dapat, hanya ketidak layakan yang ku genggam. Adakah orang yang bernasib lebih buruk dariku? Ah kurasa tidak.

Aku terlahir dengan keadaan normal, sehat walafiat. Akan tetapi, walaupun mempunyai kondisi fisik yang sempurna, aku tidak merasakan kebahagiaan seperti yang dialami oleh bayi-bayi lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, usiaku pun mulai bertambah. Tidak terasa genap dua bulan aku menghiasi dunia ini. Dunia yang orang bilang penuh warna. Warna apa? hanya ada warna hitam di duniaku.

Ibuku…. ya ibuku. Ibuku tega menyewakanku kepada seseorang. Aku dijadikannya alat mengemis oleh orang itu. Perih jiwa ini ya tuhan. Aku masih bayi!!! Aku perlu perlakuan hangat!!! Badanku masih lemah, tulangku masih rapuh, gigiku belum ada, bahkan untuk sekedar duduk pun aku belum bisa.

Aku ingin menikmati masa-masa pertumbuhan seperti bayi-bayi yang lain, aku ingin dirawat ibu setiap hari, aku mau bermain bersama ayah, aku ingin berada dalam kehangatan rumah. Tubuhku masih rentan untuk menghadapi ganasnya dunia luar. Aku tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam benak mereka sehingga mereka tega memperkerjakanku.

Aku digendong olehnya menuju mobil-mobil yang terhenti di lampu merah. Ia mengharapkan receh demi receh keluar dari mobil tersebut. Mungkin, badanku tidak lagi sehat karna tak terhitung sudah jumlah polusi udara yang tiap hari ku hirup. Asap knalpot bus kota, knalpot bajaj dan lain-lain semua sudah menjadi temanku. Tak dapat kubayangkan berapa kadar polutan di dalam tubuhku yang mungil ini.

Waktu terus berjalan, umurku kian bertambah. Betapa senangnya diriku saat aku diterima di sekolah dasar negri gratis. Tetapi bayang-bayang ketakutan terus menghantuiku. Aku takut pendidikan ini akan putus di tengah jalan. Aku berusaha sekuat tenaga agar hal demikian tidak terjadi.

Sepulang sekolah aku banting tulang mencari receh sampai malam. Aku sudah sangat akrab dengan lalu lintas. Dari bayi, balita hingga sekarang hidupku disini. Jangan ditanya tentang kelelahan yang kualami. Aku benar-benar capek. Tapi hidup tetap harus berjalan.

Entah apa yang akan terjadi terhadapku jikalau tuhan tidak ada di sampingku, iman tidah hinggap di dadaku, rasa syukur tidak menyrtaiku. Mungkin aku sudah mati bunuh diri. Semuda ini bunuh diri? Ya bisa saja.

Aku masih bisa berterimakasih dengan apa yang tuhan berikan kepadaku. Aku bersyukur masih bisa bernafas, masih bisa melihat dan aku sangat bersyukur mempunyai orang tua. Mereka adalah anugrah terindah yang tuhan berikan kepadaku.

Tapi bagaimana dengan teman-temanku seperjuangan? aku setuju pasti sebagian besar dari mereka sama sepertiku, mempunyai iman dan takwa. Tetapi, Aku sangat takut kalau saja salah satu diantara mereka khilaf.

Kadang aku sangat benci orang-orang yang hidup berkecukupan. Apakah mereka tidak melihatku atau pura-pura tidak melihatku. Katanya sesama manusia adalah “saudara” tetapi apa yang mereka lakukan terhadapku? Mereka tidak peduli, mereka sengaja menjauh dariku.

Aku tidak membutuhkan uang kalian. Sekali lagi, aku tidak membutuhkannya. Yang kubutuhkan hanya perhatian kalian. Aku mohon, jangan anggap aku tidak ada. Aku ini bagian dari kalian.

Aku ingin sekolah, aku ingin masa depan ku cerah, aku tidak mau terus-terusan hidup dalam keterbatasan. Dan yang terpenting adalah, aku tidak mau lagi melihat aku-aku yang lainnya bermunculan lagi.

Ayo kita sama-sama menghapus anak jalanan di muka bumi ini. Mereka tidak boleh kerja, mereka harus sekolah, mereka harus berada dalam perlindungan rumah, hak mereka sama dengan anak-anak yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: